MyMind: Sisi Lain Permasalahan
“Ingat, dunia tidak akan membiarkanmu menjadi anak kecil terus. Akan tiba saatnya ketika generasi berganti dan harus kita ambil alih”
![]() |
| Photo by Nik Shuliahin on Unsplash |
“Seperti itulah ceritaku. Tak terasa sudah 3 hari aku masih seperti ini. Sangat lemas dan terasa malas ingin melakukan hal apapun.” ungkap Den sambil bersandar lemah di sofa kamar apartemen Vin.
Den hari itu memang sedang berkunjung karena kebetulan saja lewat di seberang jalan dan melihat Vin sedang bersandar di beranda kamarnya. Dia merupakan orang yang sangat introvert, jadi jarang sekali dia menceritakan masalahnya kepada orang lain. Lebih ke arah tidak percaya.
“Aku mengerti, ketika kamu memiliki banyak masalah, memang sangat sulit untuk bisa beraktivitas biasa dan coba mengalihkan pikiranmu.” kata Vin.
Sulit Mengungkapkan
“Yahh, meskipun sekarang aku sedikit lega. Aku merasa bebanku sudah sedikit terlepas dengan berbicara denganmu. Kamu tahu, karena aku introvert, aku jadi sulit sekali ingin mengungkapkan masalahku untuk sekedar curhat.”
“Sebenarnya, permasalahan sulit untuk curhat banyak dialami oleh orang lain yang bahkan tidak tergolong introvert. Bahkan aku juga. Mungkin penyebabnya karena masalah kepercayaan dan apa yang akan menjadi tanggapan lawan bicara kita”
"Benar! Aku juga memiliki pemikiran seperti itu. Bukan saja karena keenggananku, tapi aku juga sulit untuk mengungkapkannya. Aku selalu beranggapan meski aku bercerita ke mereka, sebenarnya mereka pun hanya mendengar saja, bahkan malah dijadikan bahan obrolannya.”
![]() |
| Photo by Matthew Henry from Burst |
“Tanggapannya pun berbeda darimu. Kebanyakan mereka menanggapi, ‘Ya ampun, gitu aja masa down. Aku dulu lebih parah.’ seperti itu. Aku merasa seperti makhluk paling lemah. Curhatanku malah dijadikan ajang tanding seberapa berat masalah.”
Vin tersenyum mendengar Den mengatakan itu. “Hahaha, bukan rahasia umum kalo kebanyakan orang curhat akan ditanggapi hal serupa seperti itu. Aku percaya bahwa kita semua pasti memiliki masalah tersendiri dan kemampuan penanganan yang berbeda-beda.”
“Selalu ada yang mendasari permasalahan mereka sehingga tidak boleh kita anggap remeh meski bagi kita terdengar sepele sekalipun.”
The Helper
“Hehehe, aku merasa tenang bisa curhat denganmu. Biasanya aku hanya bisa memendamnya, menangis dalam kesendirian meski aku tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah.”
“Aku hanya berharap waktu bisa menyembuhkan. Hanya saja aku sudah kelelahan untuk memperjuangkannya jika masih harus berlangsung lama."
“Jika kau bisa menangis, manfaatkanlah itu. Don’t hold it back! Menangis bukan tanda kelemahan. Menangis memang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bisa memelihara kesehatan mental.”
“Lagipula, kau bisa berkeluh kesah kepada Sang Pencipta, bahkan kau bisa akui perasaan terdalam dan keinginanmu.”
Untuk Apa?
“Hahaha, kau benar.” Den tertawa. Pertama kalinya di ruangan itu, mungkin di minggu itu juga. Tapi dia segera menunduk lagi. “Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
![]() |
| Photo by Jaime Escobosa from FreeImages |
“Hmmm, sebenarnya aku tidak bisa memberikan solusi. Bagaimanapun, tidak ada yang bisa merasakan betul hal terdalam yang kamu rasakan dan tak ada yang semengerti dirimu sendiri. Mungkin untuk saat ini, aku hanya bisa berkata bahwa masalah mu lambat laun akan terselesaikan.”
“Meskipun masalah itu juga terkadang tidak akan pernah terselesaikan, tapi kamu pasti akan melaluinya dan menjadi bagian dari proses kamu berkembang.”
Vin melanjutkan, “Tapi percayalah, kamu pasti bisa menemukan solusi yang tepat untukmu dan ketika kamu berhasil melewati masalah itu, kamu pasti akan sangat bahagia. Maka, batasan kamu dalam menangani masalah akan meningkat. Itu seperti daya tahan tubuh mu yang akan meningkat setelah menghadapi penyakit.”
“Percayalah, masalah akan mendewasakanmu. Ingat, dunia tidak akan membiarkanmu menjadi anak kecil terus. Akan tiba saatnya ketika generasi berganti dan harus kita ambil alih. Di saat itu lah kedewasaan kita harus sudah siap dan kadang untuk mendapatkanya, kita harus punya kondisi yang memaksa.”
Den terdiam. Dia membisu dan menatap meja kaca dihadapannya yang tercermin sedikit bayangan dirinya. Begitu tenang, seakan-akan seluruh kekuatan ototnya dialihkan untuk otaknya berpikir.
“Ingatlah, selama kita masih bernafas, itu artinya ada suatu tujuan yang belum kita tahu dan belum kita capai. Selama kita hidup, pasti kita akan terus mendapat masalah, toh hewan dan tumbuhan juga punya masalah ketika harus bertahan hidup.”
“Tapi, ketika kamu berhasil melewati masalah itu dan ketika kamu melihat daftar masalah yang berhasil kamu selesaikan, itu akan menjadi kekuatanmu dan kamu sadar bahwa kamu telah bertumbuh.”
“Kamu benar Vin. Tapi ada kalanya ketika aku memikirkan masalah itu, nampaknya hal itu tidak akan pernah bisa kuselesaikan. Bahkan aku sudah sampai di tahap ketika menangis, itu sudah tidak lagi menenangkan dan juga itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Aku semakin depresi.”
Try To Solve or Make it a Lesson or Both
![]() |
| Photo by Mathias Jensen on Unsplash |
“Harus kuakui bahwa tidak semua permasalahan bisa selesai. Akhir yang indah tidak akan selalu terjadi, ini bukanlah dunia perfilm-an.”
“Ketika ada sebuah masalah yang kamu miliki dan tidak sepenuhnya kamu memegang kontrol atas masalah itu, maka kamu harus selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena jika hanya kamu yang berusaha tapi tidak ada energi dari pihak lain yang ikut ambil kontrol untuk menyelesaikan masalah akan percuma. ”
“Di saat itulah kita harus mencoba untuk melihat dari sudut pandang lain. Maksudku, cobalah untuk tenang dalam memilih solusi atau jadikan itu sebagai pembelajaran berharga.”
“Jangan sampai masalah itu berlalu begitu saja tanpa kita belajar. Tak jarang orang-orang yang memiliki masalah berat, tidak tenang memikirkan solusinya, dan berubah menjadi tokoh antagonis. Itu hanya akan menambah masalah.”
Mengeluh Sambil Berbuat
Suasana di ruangan itu hening sesaat. Vin mengambil botol minumnya berdiameter 8 cm dan menghabiskan air setinggi jari telunjuknya sementara Den mencondongkan badannya ke depan.
Terlihat raut wajahnya yang lebih tenang. Kini matanya pun terlihat berbeda, lebih bersemangat dari sebelumnya. “Makasih Vin, aku benar-benar terbantu dan merasa tenang. Maaf yaa jika aku banyak mengeluh.”
![]() |
| Photo by Olav Ahrens Røtne on Unsplash |
“Tak apa Den. Kamu boleh mengeluh jika kamu memang sudah berusaha. Bahkan, jika kamu tidak keluarkan emosi yang kamu pendam, akan menjadikan penyakit bagi mu atau berdampak buruk bagi lingkungan sosial sekitarmu.”
“Aku tidak ingin kamu menjadi salah satu orang yang putus asa dan berakhir bunuh diri atau melakukan kekerasan ke lingkungan sekitar karena emosi yang kamu pendam”
“Hehehe, kamu seperti seorang motivator! Aku benar-benar jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tenang saja, aku bahkan terpikirkan hal-hal itu.”
“Wah, baguslah. Senang sekali aku bisa membantumu. Hehehe, aku bukanlah orang yang bisa memotivasi. Aku hanya orang yang bermasalah! Ingatlah, kita lahir menjadi seorang 'petarung'. Kita lahir untuk menciptakan dan menyelesaikan masalah, dan dari masalah itu lah akan bermunculan solusi dan pembelajaran yang akan sangat berguna.”
“Sebenarnya, banyak hal yang ingin aku obrolkan denganmu. Tapi aku merasa akan ada orang lain yang menunggumu di luar.” kata Den sambil menatap dinding mading sederhana yang tertancap di sisi meja kerja Vin.
Tak lama setelah itu, terdengar ketukan pintu. Tepat sekali seperti yang dikatakan oleh Den. “Wahh, bagaimana kau bisa tahu akan ada orang lain.” Vin terkejut sambil segera membukakan pintu. Ahh, ternyata itu adalah teman satu timnya .
Saat itu Vin memang ada pekerjaan baru, dan akan segera mendiskusikan rancangan software yang akan mereka bangun. Den melihat jadwal pertemuannya itu di mading. Tapi nampaknya Vin sedikit lupa dengan janji pertemuan itu. Dasar Vin pelupa!
The world keeps on moving, all on its own
Don't be afraid if you're far from home
No need to worry, you are who you are
We fight to survive
Because we are warriors
Warriors - Nicky Romero, Volt & State
Remember when life is so
unfair
Hold on, hold on, we're almost there
Hold On - Martin Garrix, Matisse & Sadko
Kenali lebih jauh isi konten dari blog ini di postingan ini





Komentar
Posting Komentar