MyMind: Bahagiakah Kita?

    “Melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mensyukuri hidup bisa membuat bahagia”

Masih di depan laptopnya, ditemani dengan secangkir kopi hangat di sebelahnya. Cuaca saat itu dingin dan sedang turun hujan, namun tidak badai “Fuuuhhhh, badanku lelah sekali rasanya berada di depan meja ini.” kata Vin sambil peregangan.

Sesaat dia menatap ke luar jendela dari kamar lantai 2 pada sebuah apartemen sederhana tempat dia tinggal. Dia menatap jalanan yang sepi. Hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang dan terlihat sekian payung yang bermekaran.

Sudut Pandang Orang Lain

Sudut pandang yang berbeda
Photo by Alfons Morales on Unsplash

Diantara payung-payung itu, matanya tertuju pada seorang wanita, sepertinya sudah paruh baya, dengan tampilan yang sederhana. Terlihat sepasang kakinya dengan sepatu hak tinggi, dan terlihat juga sepasang kaki lain dengan sepatu yang lebih kecil berdampingan. Sepertinya itu anaknya.

Vin membuka jendelanya, membiarkan udara dingin dari luar itu mengusir udara dalam kamarnya. “Mah, aku mau es krim!” kata anak itu. “Ahh, permintaan yang menantang cuaca.” gumam Vin dalam hati.

“Wahh, kamu tidak salah minta es krim di cuaca seperti ini?” kata wanita tersebut.

“Ehm, aku yakin. Makan es krim buatku bahagia di cuaca apapun” kata anak tersebut.

“Tapi saat ini uang mama hanya cukup untuk membeli bahan masakan hari ini.” Anak itu terdiam. Sepertinya dia sedang menunduk kecewa. Namun terdengar lagi suara si ibu. “ Tapi tidak apa, mama bisa memasak lain dengan bahan yang lebih murah. Tidak apa kalo kamu sebahagia itu. Tapi ingat, cukup hari ini saja yaa kamu makan es krim di cuaca ini”

“Yeay, terima kasih mamah terbaik” anak kecil itu bahagia sekali sampai meloncat - loncat. Bahkan cipratan bekas air hujan menodai sepatu mereka.

“Waah, kebahagiaan anak kecil itu sederhana yaa!” kata Vin sambil menopangkan dagunya di kedua tangannya. Hujan mulai berhenti. Terlihat payung-payung kuncup kembali. Setelah ibu itu menutup payungnya dan menjauh, dia melihat seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian yang sangat rapi. Dia terlihat sedang menelepon seseorang.

“Hey, kamu dimana. Aku sedang buru-buru, kenapa lama sekali. Cepat kesini, jika aku terlambat aku pecat kamu.” bentaknya di telepon. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah terlihat mengebut di ujung jalan dan segera melambat dan menepi ke arah si bapa tadi. Terlihat bapa itu masuk ke dalam mobil sambil misuh-misuh. “Sungguh tidak ramah!” gumam Vin.

Matanya memandang lebih jauh, terlihat dua orang laki-laki tertawa-tawa di pinggir jalan. Apakah mereka gila? Itu juga yang dipikirkan oleh Vin. Tapi tampaknya mereka adalah sahabat. Sesekali mereka bertingkah konyol dan tertawa-tawa lagi.

Vin membuang pandangan ke arah lain. Terlihat sepasang kekasih berjalan sambil bergandengan. Terlihat mereka sambil mengobrol dan sesekali tertawa. Tatapan saling pandang mereka mengisyaratkan cinta dan kebahagiaan yang saling mereka peroleh.

Terdengar suara pintu balkon tetangganya terbuka. Seorang wanita yang sudah tua dan tinggal sendiri itu keluar sambil membawa peralatan perawatan tanaman.

Terlihat dia mengurus tanamannya yang berbunga di balkonnya sambil sesekali mengajak bicara tanamannya. “Tumbuh subur yaa kalian semua!” begitu katanya. Terlihat senyum yang menghiasi wajahnya. Tampak bahagia meskipun sudah tua dan tinggal sendiri.

Vin kemudian kembali melihat laptopnya. Entah mengapa di wajahnya terdapat senyuman. “Beberapa dari mereka berbahagia dengan hal sederhana, namun ada juga yang risau”. Vin mulai berbicara sendiri. Sesaat, terdengar pintunya diketuk.

Kebahagian yang Relatif

Kebahagiaan
Photo by luis tapia from FreeImages

Dia pun beranjak dari bangkunya dan mengintip dari lubang pintu. Ternyata itu salah satu temannya. Dia memang sering berkunjung. “Hai Ven, masuklah. Kebetulan aku sedang istirahat” kata Vin. Ven masuk sambil membawa makanan, untuk Vin katanya.

“Waah gila, seneng banget rasanya!”

“Kenapa Ven? Dapat promosi? Dapat bonus? Dapat lamaran resmi dari pacarmu?”

Plaaakk, tutup kardus makanan mendarat mulus di kepala Vin. Cuaca pun mendukung pendaratan darurat itu. “Hahaha, bukan itu semua. Lagian pasti aku yang ngelamar pacarku duluan.” kata Ven

“Terus apa?”

“Kamu tau kan aku kerja sambilan dengan memberikan les ke anak-anak. Hari ini akhirnya dia bisa mengerti materi aljabar. Hahaha, aku memang pengajar yang canggih”

Vin terdiam sesaat. Tak lama wajahnya tersenyum. “Memang bahagia itu sangat relatif. Tergantung bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Lalu, bagaimana dengan ku? Dengan kehidupanku yang sekarang?.”

Plakk, kardus itu mendarat kedua kalinya. “Hey, kau dengarkan aku tidak?” kata Ven

“Hahaha, maaf, sedikit melamun tadi. Kamu bilang apa tadi?”

Plakk, ketiga kalinya. Mereka tertawa-tawa dan terus mengobrol. Meski langit semakin gelap dan hujan kembali turun, obrolan dan tawa mereka tidak terhenti. Nampaknya Ven akan menginap di kamar apartemen Vin malam itu.

Sudut Pandang yang Berbeda

Sudut Pandang
Photo by Saketh Garuda on Unsplash

“Hmmm, kebahagiaan juga ternyata harus diusahakan, meskipun memiliki banyak masalah. Melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mensyukuri hidup bisa membuat bahagia. Bahkan, jika seorang anak bisa melakukan hal sederhana bagi kita seperti baca hitung, bisa menjadi kebahagiaan tersendiri di waktunya.”

“Hmm, misalkan aku punya pasangan tapi melihat dari sudut negatif, hasilnya pasti akan negatif juga.” Vin berbicara di dalam hatinya.


Inilah pengalaman Vin dalam berpetualang memecahkan suatu kasus!

Bacalah di postingan ini!

Ketahui pemrograman tentang variabel bersama pengalaman Vin di link ini!

Kenali lebih jauh isi konten dari blog ini di postingan ini

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MyMind: Penyebab Biasnya Informasi

Debug: Lingkungan Pengembangan Software (Pengenalan Pemrograman #3)