MyMind: Penyebab Biasnya Informasi
“Bimbang antara rating dan kode etika jurnalistik, akhirnya kita masyarakat juga yang menjadi korbannya.”
![]() |
| Photo by AbsolutVision on Unsplash |
Menatap baris coding yang ada pada code editor nya, sudah menjadi pemandangan yang biasa di kamar Vin. Saat ini dia benar-benar sedang sibuk bekerja. Deadline sudah dekat dan karena itulah Vin semakin lincah menggerakkan jari jemarinya di atas keyboard laptopnya.
“Wahh, sudah 3 jam. Aku mau rebahan dulu”, ucap Vin sambil beranjak dari kursinya sambil mengambil hp yang terletak disamping laptopnya.
Headline Penyebab Bias Informasi
Tak sengaja ia memencet browser di hpnya dan terbuka halaman google search engine. Matanya tertuju pada tumpukan berita yang ada di sana. Sekilas ia melihat judul dari berita-berita itu, dan matanya tertuju pada sebuah headline yang sangat mengejutkan.
Segera ia melihat isi beritanya dan benar-benar membuat salah paham jika membaca headlinenya saja. Setelah membaca singkat, ia menutup browsernya dan membuka game di hp nya. Sambil menunggu loading, terpikirkan mengenai berita yang ia sempat lihat tadi.
“Hmmm, mengapa semakin lama banyak berita sejenis itu bermunculan yaa? Jika saja semua berita seperti tadi, hanya mengandalkan headline namun isinya kurang relevan dengan kebenarannya demi sebuah klik, bagaimana kita bisa merasa informasi itu bisa dipercaya?”
Pemicu Menyebar Cepat Hoax
Sekilas ia terpikirkan mengenai berita-berita yang beredar yang ia sempat lihat tadi. Ia jadi melamunkan hal-hal itu. “Jika semakin lama, semua berita mengadopsi cara yang sama, lalu bagaimana caranya kita bisa bisa tahu informasi yang ada di sekitar kita."
"Bukankah tujuan adanya berita agar kita bisa mengetahui keadaan? Lewat berita juga, bisa menjadi panduan kita untuk bisa bertahan hidup atau pun mengambil keputusan, atau sekedar sebagai media informasi.”
“Tak heran mengapa hoax bisa beredar dengan cepat. Bagaimana tidak, ketika sebuah headline heboh muncul, mereka tanpa membaca isinya langsung screenshot dan membagikannya kepada orang lain. Mereka merasa bahwa headline yang menggugah emosi membuat mereka percaya bahwa berita itu benar, penting, dan harus segera disebarkan agar semua orang tahu."
"Namun, mereka tidak mencoba untuk membaca
isinya terlebih dahulu karena sebenarnya, jika mereka membaca isinya, mereka
akan mengerti bahwa judul berita tersebut tidak bisa mereka terima secara
mentah.”
Membaca Untuk Memperjelas Keadaan
![]() |
| Photo by Iñaki del Olmo on Unsplash |
Game yang dari
tadi ia tunggu ternyata sedang maintenance. Vin pun memutuskan untuk
tiduran saja, dengan kedua tangan yang menjadi alas untuk kepalanya diletakkan,
meskipun sebenarnya sudah ada bantal di sana. Sambil menatap langit-langit ruangan, pikirannya mulai berselancar dengan topik berita tersebut.
“Yah, mau bagaimana lagi? Kebanyakan masyarakat sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak membuat mereka harus mengeluarkan usaha untuk bisa memahami sesuatu. Bahkan sebenarnya bisa terlihat dari rendahnya budaya membaca yang ada di negara ini."
Ia memandang buku panduan yang tebal yang ada di mejanya. "Mungkin salah satu penyebabnya adalah kondisi dimana anak sejak kecil, menempuh pendidikan, dipaksakan untuk membaca buku, sehingga menumbuhkan ikatan emosi yang buruk dan melekat pada anak-anak."
"Mungkin lebih baik, fokus yang harus diusahakan adalah bagaimana bisa menarik anak untuk senang membaca, setidaknya untuk dia bisa mencari informasi yang benar secara mandiri sehingga hal itu bisa dibawa dan melekat pada diri anak hingga dia dewasa.”
Memilih Kepraktisan Meski Bias
Ia mengubah posisi nya menjadi duduk di atas sofa itu, dia menatap ke luar jendela. langit senja saat itu benar-benar cerah sehingga pemandangan langit merah begitu jelas terlihat. Dia melihat jam dinding. Jarum pendek sudah beranjak 180 derajat sejak terakhir kali ia melihatnya.
Tersenyum, karena itu artinya Vin masih bisa memuaskan rasa bermalas-malasannya sambil menuntaskan pikirannya mengenai topik yang dari tadi membayang di pikirannya.
![]() |
| Photo by freestocks on Unsplash |
“Padahal, informasi yang kita lihat sebenarnya kebanyakan adalah pembahasan dari sisi emosi negatifnya saja. Contohnya, ketika berita menyiarkan perang antara dua negara. Pasti akan ada selalu pihak yang antagonis dan protagonis, karena untuk memancing emosi, perlu ada korban."
"Kalo ku ingat sebuah video yang pernah beredar di salah satu timeline media sosial, ada seorang pembuat konten yang mengatakan bahwa dia mengerti jika dia menerima kebencian dari orang dewasa. Tapi, menerima pernyataan pembunuh dari seorang anak kecil?”
“Seorang anak kecil
bisa menjadi rasis karena informasi yang ia dapat hanya dari televisi yang
menjual kontroversi karena memang seperti itulah yang bisa menarik perhatian
dan simpati dari manusia."
"Padahal, masih banyak orang-orang yang berasal dari negara yang berkonflik namun tidak menginginkan konflik, duduk bersama, berdiskusi, bermain, dan berkumpul. Sayang sekali hal itu tidak pernah terpublikasi sehingga ketika kita melihat dunia, seakan semua isinya adalah hal yang negatif.”
Media yang Beradaptasi
Hampir sejam berlalu. Vin mulai berdiri, melakukan peregangan, dan bersiap untuk melanjutkan menekan-nekan keyboardnya. Dia segera beranjak, menarik kursi, dan kembali duduk menatap layar laptop. Sesekali dia melihat hp, mungkin saja ada pesan yang masuk. Kemudian pikirannya kembali mengawang-awang.
![]() |
| Photo by Robert V. Ruggiero on Unsplash |
“Mungkin karena masyarakat yang sudah seperti itu, akhirnya media yang menulis berita pun harus menyesuaikan dengan keinginan. Sepertinya agak ironis, ketika bimbang antara rating dan kode etika jurnalistik, akhirnya kita masyarakat juga yang menjadi korbannya."
"Mungkin itulah yang mendesak ide-ide untuk memikirkan bagaimana caranya agar masyarakat memilih media mereka sebagai tempat utama mengetahui sebuah informasi. Tapi, apakah ada pendekatan yang lebih baik untuk hal ini?”
Vin menatap jam dinding, sudah tepat 1 jam ia beristirahat. Saatnya untuk dia kembali mengejar deadline pekerjaannya.




Memang sangat disayangkan banyak media mulai menggadaikan idealisme demi SEO dan trafik. Bahkan banyak media abal-abal yg bermunculan.
BalasHapushehehe, makasih kak komentarnya. Memang keresahan banyak orang dari keadaan sekarang
HapusMasuk sekali isi artikel nya, mmg begitulah yg terjadi
BalasHapusmakasih mas kunjungan dan komentarnya
Hapus