MyMind: Fans Apakah Selalu Fanatik?

 “Ketika sudah mulai memperdebatkan masalah preferensi, itu sudah di luar akal sehat”
Preferensi yang Berbeda
Gambar oleh ktphotography dari Pixabay

Suara klakson dari kendaraan bermotor sangat ramai, disertai sorak sorai dari orang-orang yang berkumpul. Situasi itu tak seperti biasanya yang selalu sepi sunyi senyap. Bahkan saat itu cuaca sedang mendung dan hujan mulai turun, tetapi itu tidak membubarkan semangat mereka dalam menyambut pawai kemenangan dari salah satu tim sepak bola yang berasal dari kota itu. 

 “Wah, sungguh indah rasanya melihat banyak orang yang berkumpul, berbagi rasa senang bersama, dan menyambut kemenangan tim mereka dengan semangat mendukung.” Gumam Vin yang sedang bertopang dagu, melihat keluar ke bawah dari jendela kamar apartemennya di lantai 2. Tiba-tiba saja, pandangan sudut dari mata Vin menatap ke dua orang pemuda yang nampaknya sedang beradu mulut. Vin penasaran, dan terus menatap mereka. 

Pemicu

Tak lama, mereka mulai kontak fisik dan orang-orang di sekitarnya mulai melerai. Beruntunglah hal itu dapat dicegah sebelum semakin besar dan memicu perdebatan panjang. Vin yang melihat itu semua tentu saja penasaran, lalu memutuskan turun dan bertanya mengenai apa yang terjadi.

Tidak biasanya Vin seperti itu, tapi mungkin karena dia tidak bisa bekerja dengan situasi yang berisik, jadi dia iseng untuk berinteraksi dengan orang lain. Memang terkadang Vin itu aneh.

 “Maaf Pa, permisi, tadi ada keributan apa yaa di antara dua pemuda itu? Kebetulan saat itu saya sedang melihat dari atas dan khawatir terjadi keributan ketika dua orang itu sudah mulai kontak fisik.”

    “Ohh, tenang saja, itu sudah kami lerai. Sebenarnya mereka sama-sama mendukung tim itu, tapi keduanya memiliki anggapan bahwa pemain yang mereka idolakanlah yang membawa kemenangan tim.”

    “Ohh, seperti itu. Terimakasih pa.” Vin pun diam sebentar, sambil curi-curi pandang terhadap dua orang itu. Nampaknya mereka sudah mulai berdamai dan saling bersalaman. Sungguh pemandangan yang indah.

Fans Dalam Batas Wajar

Fans
Photo by Christin Noelle on Unsplash

    Vin lega. Untung saja tidak menjadi konflik yang besar. Vin tidak suka menyaksikan konflik yang terjadi langsung di depan matanya. Itu benar-benar membuat dia resah. “Wah, ngeri juga yaa, mendukung tim yang sama tapi mengidolakan pemain yang berbeda saja bisa membuat keributan.” Kata Vin dalam hati sambil menaiki tangga. Dia membuka pintu kamarnya dan memutuskan untuk tiduran di sofa tamunya saja sambil menunggu keramaian pawai di luar menghilang.

    “Hmmm, kalo dipikir-pikir, rasa kagum kita terhadap proses, karya, atau tampilan seseorang memang layak memunculkan kata idola atau fans dari dalam diri kita terhadap hal yang kita idolakan. Sudah manusiawi. Aku pun punya tokoh yang aku idolakan.”

“Tapi, kenapa tak jarang rasa kagum yang seharusnya positif membawa semangat itu menjadi terlalu berlebihan dan akhirnya memunculkan rasa tidak aman bagi yang lain yang bertentangan yaa? Bahkan di lingkungan sekitar mereka.”

Ketika Melewati Batas

Vin sedikit mengangkat kepalan untuk menatap meja kerjanya, melihat laptop yang ternyata olehnya sudah di hibernate. Sebenarnya Vin ingin segera melanjutkan pekerjaannya, tapi nampaknya sofa itu kini benar-benar menarik dirinya untuk tidak berdiri, didukung dengan keramaian yang belum surut juga. Dia kembali menaruh kepala, dan tenggelam lagi dengan pemikirannya.

 “Kalo dilihat-lihat, banyak juga kasus tentang konflik antar fans. Tak jarang, sebuah komunitas atau perorangan yang mengidolakan sesuatu, ketika ada yang menyindir tokoh/sesuatu yang diidolakannya, akhirnya membuat kegaduhan yang menurutku tidak masuk akal.”  

“Sebenarnya, Itu kan sudah masalah preferensi. Setiap orang pasti punya pandangan sendiri mengapa dia suka dan tidak suka. Itu kan sudah bersifat subjektif. Ketika kita memperdebatkan preferensi, sesuatu yang sangat subjektif, itu sudah tidak masuk akal. “

”Beda jika itu bersifat fitnah. Tapi bahkan, jika itu memang benar-benar fitnah, untuk apa kita perdebatkan? Sesuatu hal yang pasti tidak benar. Kenapa tidak kita abaikan saja dan biarkan pihak berwajib yang mengurus itu? Justru ketika kita bersifat anarkis atau tidak bijak dalam mendukung tokoh idola kita, bukankah itu malah memberikan kesan buruk bagi tokoh tersebut?”

Fanatik Berujung Konflik

Fanatik Berujung Konflik
Photo by Hasan Almasi on Unsplash

          Terdengar suara pawai yang telah menjauh. Suara kerumunan pun sudah mereda. Tapi Vin terlalu asik dengan dunianya. Dia tidak menyadari semua itu. Dia hanya terus menatap langit-langit, sementara otaknya seakan-akan sedang mengadakan konferensi.

“Fanatik terhadap sesuatu hal, rasa kagum yang berlebihan, terkadang tidak hanya mengganggu segelintir orang. Bisa banyak yang dirugikan dan bahkan si tokoh idolanya itu sendiri. Aku jadi ingat ketika ada beberapa tokoh yang tewas di tangan orang yang ternyata mengaku sebagai fans berat dari tokoh itu.”

“Alasan dia membunuh karena dia merasa kecewa tokoh idolanya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, baik itu dari segi tampilan, atau keputusan yang diambilnya. Padahal, apa haknya dia untuk mengatur orang tersebut? Manager saja tidak se-ekstrim itu.”

 “Sebenarnya, sudah masalah umum, jika orang-orang yang memiliki idola terkadang terlibat konflik yang bisa berimbas kepada masyarakat sekitar. Maksudku, jika mengidolakan sesuatu secara wajar, tidaklah masalah, namun ketika sudah mulai mengabaikan ketenangan dan nilai-nilai kemanusiaan, aku rasa itu sudah mengerikan.”

Sifat Dasar Manusia?

    “Hmmm, masalah ini memang sudah ada sejak zaman dahulu,  bahkan sebelum masehi, dimana saat itu tokoh yang diidolakan seperti seorang filsuf terkenal atau seorang politikus. Sifat fanatik itu sepertinya sudah diwariskan turun temurun, generasi ke generasi, selama dia masih manusia."

    "Sebenarnya, ketika berdebat mengenai masalah preferensi, tidak ada kata benar atau salah, bahkan perdebatan itulah yang menimbulkan masalah dan bisa mengabaikan aspek kemanusiaan. Selama dia manusia, pasti ada kecenderungan untuk rasa fanatik itu. Tapi, tidak bisakah rasa itu ditekan dan mengutamakan akal sehat dan kemanusiaan? Tidak bisakah saling menghargai preferensi tersebut dan menjadikannya sebagai sudut pandang yang lain?”

    Vin memikirkan jawabannya. Adakah jalan terbaik untuk itu? Jawaban yang sebenarnya sangat luas dan kendalinya terletak pada masing-masing diri manusia. Keheningan yang kini sudah menyeliputi keadaan sekitar, membawa seorang Vin kembali menegakkan tubuhnya, dan kembali menarikan jari-jarinya di atas keyboard laptop sekaligus mengalihkan pemikiran Vin, beserta jawaban yang belum ia pikirkan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MyMind: Penyebab Biasnya Informasi

Debug: Lingkungan Pengembangan Software (Pengenalan Pemrograman #3)

MyMind: Bahagiakah Kita?