KnowIt: Dashyatnya Komunikasi Non Verbal
“Setiap interaksi verbal, 80% terdiri dari bahasa tubuh, dan ketika interaksi non-verbal, hampir 100% tubuhmu yang berbicara"
|
| Photo by Steve Johnson on Unsplash Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay |
Vin menatap temannya yang terlihat tidak bersemangat, padahal
hari itu mereka sedang liburan bersama. Nampaknya hal itu menarik perhatian
dan mendorong dirinya untuk bertanya mengenai hal itu.
“Danse, apa liburan ke tempat ini tidak cocok dengan mu?” tanya Vin. Saat itu mereka berada di suatu tempat wisata alam yang ada di Bandung dengan ketinggian 1500 dpl dan dikelilingi dengan hijaunya alam dan pepohonan yang menjulan tinggi. Saat itu mereka berada di tengah-tengah hutan dan sedang melakukan tracking.
“Ahh, tidak Vin, tidak apa-apa. Aku senang kita bisa ke sini, cocok sekali untuk menghindar dari kepenatan rutinitas.”
“Perkataanmu malah tambah membuatku penasaran. Sebenarnya, apa yang sedang kamu alami?”
Sudah Baik, Tapi Masih Ditolak?
|
| Photo by Steve Johnson on Unsplash |
Danse hening sesaat, sambil tangannya bersandar pada sebuah
pegangan kayu, “Kau benar. Aku sedikit resah. Lamaran kerja ku tidak
diterima lagi, ini sudah ke 3 kalinya. Susah juga untuk bisa mencari
pekerjaan di perusahaan.”
“Hmmm, kau melamar sebagai apa?”
“Backend Engineer, namun sepertinya untuk mendapatkan profesi itu sangat sulit, banyak sekali saingannya.”
“Mungkin karena kau tidak memiliki pengalaman sebelumnya di bidang
itu.”
“Tapi, mereka mengatakan mencari seorang yang baru saja lulus
(fresh graduate) dan aku juga sudah memiliki 3 projek portfolio. Bahkan, aku
juga sudah memiliki 2 sertifikat khusus yang memadai.”
Vin terdiam dan ikut berpikir. Dia ingin sekali membantu kawannya mendapat pekerjaan yang diinginkan itu. “Kau sudah tepat waktu ketika ada janji wawancara?”
“Tentu saja. Aku berusaha rapi dan tepat waktu.”
"Apa jawabanmu sudah relevan dengan pertanyaan yang diberi pewawancara?"
"Aku yakin! Aku mengikuti semua saran dari pelatihan yang pernah kita ikuti."
"Kau sudah berlaku baik?"
"Tidak ada keraguan!"
“Bagaimana jika kita lakukan simulasi wawancara? Siapa tau aku bisa membantumu.” kata Vin. Danse sebenarnya terkenal sebagai mahasiswa yang cukup rajin dan bisa diandalkan sebelumnya. Bahkan pengetahuannya di bidang itu cukup terkenal di angkatannya. Bahkan ia berhasil lulus dengan nilai yang baik. Oleh karena itu, Vin tidak meragukan kemampuannya. Namun Vin terpikirkan satu faktor yang menjadi kelemahannya, yaitu rasa gugup.
Setelah Danse menyetujui untuk mencoba simulasi wawancara, Vin akhirnya menyadari sesuatu yang membuat pewawancara menjadi merasa tidak yakin dengan Danse.
“Sepertinya aku mengetahui kenapa kamu sulit diterima kerja oleh pewawancara.”
“Menurut mu apa itu?”
Biarkan Tubuh Berekspresi
“Gerakan tubuhmu selama wawancara. Sepertinya kamu harus mempelajari bahasa tubuh agar kamu bisa lebih percaya diri.”
“Bahasa tubuh? Kenapa aku harus mempelajari itu? Bukannya untuk profesi kita, lebih baik mempelajari bahasa pemrograman?”
“Itu juga penting. Namun, tidak hanya itu. Bahasa tubuh itu merupakan keseharian kita dan bisa dibilang sebagai soft skill yang sangat berharga untuk kita pelajari. Setiap kita berinteraksi, atau mengalami suatu hal, pasti tubuh kita berbahasa bahkan tanpa kita sadari. Ketika kamu bisa memanipulasi dan mengolah bahasa tubuhmu dengan baik, maka kamu akan lebih mudah membuat orang percaya dan yakin dengan dirimu."
"Bahkan, bahasa tubuh lebih akurat ketimbang perkataan yang diucapkan. Hal ini dikarenakan gerakan bahasa tubuh merupakan bahasa turun temurun hasil dari adaptasi, bahasa yang dihasilkan secara spontan, dan merupakan bahasa universal dan gerakan ini diatur oleh otak primitif kita, yaitu otak limbic, yang mengatur gerakan-gerakan spontan untuk dapat membuat tubuh kita merasa nyaman dalam suatu keadaan sehingga cukup akurat dan dimiliki oleh semua orang tanpa peduli dari mana asalnya. Bahkan setiap interaksi verbal, 80% terdiri dari bahasa tubuh, dan ketika interaksi non-verbal, hampir 100% tubuhmu yang berbicara.”
Danse cukup tertegun menyimak penjelasan yang baru didengarnya pertama kali dan tak pernah ia dapat di bangku pendidikan. “Wah, apakah sekuat itu pengaruhnya?”
“Benar. Bahkan jika kamu terus berlatih mengolah bahasa tubuh, kamu akan lebih mudah mendapat perhatian, dan jika kamu terus berlatih untuk membaca bahasa tubuh orang lain, kamu bisa mengetahui isi pikiran orang tanpa dia harus berbicara."
"Bahkan, kamu bisa mengetahui apakah orang itu menyembunyikan sesuatu atau tidak. Contoh para aktor yang mampu memanipulasi bahasa tubuh nya dengan baik dan para investigator yang mampu membaca setiap tanda non-verbal dengan baik."
Terlihat ekspresi heran dari wajah Danse. “Membaca bahasa tubuh? Apa itu mungkin?”
“Ya, bahkan tadi aku bisa membaca bahasa tubuhmu dan mengetahui kamu memiliki sesuatu masalah, karena bahasa tubuh yang kau perlihatkan sangat jelas. Terkadang, sinyal bahasa tubuh itu juga bisa dipancarkan oleh seseorang secara samar. Jika kamu bisa melihat tanda itu dan menerjemahkannya dengan tepat, kamu bisa memahami orang itu dan bahkan komunikasi akan jauh lebih baik.”
“Lalu, bagaimana dengan wawancara? Kau bilang dengan mempelajari bahasa tubuh bisa membuatmu lebih mudah dipercaya."
“Benar. Menurutku, inti bahasa tubuh ada dua, perasaan positif yang mengindikasikan rasa nyaman, dan perasaan negatif yang akan memperlihatkan tanda ketidaknyamanan. Nah, saat kita simulasi wawancara tadi, tubuhmu seakan-akan berada di posisi yang tidak aman sehingga gerakan mereka sebagai respons dari rasa ketidaknyamananmu."
"Contoh dari simulasi tadi, matamu tidak fokus melihat si pewawancara, bahumu sangat kaku, kaki rapat, dan tanganmu yang menggenggam erat paha mu. Itu mengindikasikan tanda ketidaknyamanan yang tinggi, dan ketika kamu memancarkan aura itu, siapapun yang sedang berbicara padamu akan ikut merasa tidak nyaman sehingga mereka akan sulit percaya padamu. Aku berani bertaruh bahasa tubuhmu saat itu jauh lebih buruk dari simulasi tadi.”
Danse terdiam. Dia benar-benar terkejut ketika mendengar penjelasan dari Vin. “Aku tidak pernah tahu bahwa ada ilmu yang sangat hebat seperti itu. Lalu, aku harus seperti apa?”
Manipulasikan dengan Baik
“Hmm, pertama buatlah tubuhmu serileks mungkin. Aku tahu bahwa kamu gugup, tapi cobalah untuk mengontrol gerakan tubuhmu. Sebagai contoh, matamu harus fokus kepada pewawancara dan tanganmu jangan dibiarkan terdiam terus di atas pahamu."
"Ketika menjawab pertanyaan, jika kamu percaya diri, biarkan tanganmu ikut bergerak jika memang perlu, karena itu menegaskan bahwa apa yang kamu katakan adalah benar. Bagi pria, telapak tangan seperti mulut, karena ketika kita menyembunyikan telapak tangan, itu menandakan kesan yang tertutup. Maka orang akan merasa tidak nyaman dan merasa perkataan kita hanyalah kebohongan."
|
| Contoh steepling (sumber: pinterest) |
"Sesekali, lakukan gerakan steepling, dimana kamu mempertemukan semua ujung jari di kedua tanganmu. Hal ini menegaskan bahwa kamu percaya diri. Sebenarnya ada banyak lagi dan disertai penjelasan ilmiah mengapa tubuh melakukan gerakan itu tanpa kamu sadari. Kamu bisa mempelajari itu.”
“Wah, kamu sangat membantu. Aku jadi semangat untuk melamar pekerjaan lagi.”
“Hahaha, iya, tapi jangan lupa untuk mempelajari dulu mengenai bahasa tubuh. Tidak hanya untuk wawancara kerja, tapi juga penting untuk sosialisasi sehari-hari.”
Waktu hampir menunjukkan pukul 3 sore sementara mereka masih belum
mencapai tempat yang ingin mereka tuju. Mereka pun segera bergegas mendaki,
kali ini Danse terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. Sepertinya,
dengan semangat seperti itu, mereka akan sampai kurang dari 30 menit.
Mungkin.



Komentar
Posting Komentar